GANGGUAN GAGAP PADA PESERTA DIDIK
Oleh : Weny eviatasari (A1D117026)
PGSD
di Universitas Jambi
A.
Pengantar
Bahasa adalah
satu-satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan
gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu, sebagai makhluk berbudaya dan
bermasyarakat. Setiap hari manusia tidak pernah lepas dengan yang namanya
bahasa, dari semenjak kecil manusia tsudah sangat terbiasa untuk berbahasa.
Anak-anak dengan kelainan bahasa mempunyai kesulitan dalam mengekspresikan
pikirannya atau memahami apa yang diucapkannya. Keterlambatan bicara dapat
diketahui dari ketepatan penggunaan kata, yang ditandai dengan pengucapan yang
tidak jelas. Rendahnya kemampuan berbicara anak dapat terlihat dari kesulitan
anak untuk berbicara dengan bahasa lisan, sulit menjawab pertanyaan, malu untuk
bertanya, sulit untuk menceritakan pengalaman yang sederhana dan kemampuan kosa
kata anak yang masih terbatas. Anak yang mengalami gangguan kelancaran
berbicara (gagap) adalah anakyang memiliki gangguan kelancaran berbicara yang
terjadi akibat dari perasaan kekhawatiran/kecemasan yang sangat tinggi saat
hendak berbicara dengan lawan bicaranya, sehingga orang tersebut merasa
kesulitan untuk mengungkapkan apa yang hendak ia bicarakan kepada lawan
bicaranya, akibatnya ia berbicara dengan tersendat-sendat, mengulang-ulang
ucapanya, dan mendadak berhenti untuk menyelesaikan apa yang hendak ia ucapkan.
B.
Pembahasan
1.
Latar
belakang
Eka
(2010: 7), Gagap adalah pengulangan bunyi yang sama berkali-kali tanpa di
sengaja. Gagap yang ringan banyak terdapat pada anak-anak, yaitu sekitar 3
sampai 4 persen anak-anak prasekolah ketika mereka melalui belajar
menggabungkan kata-kata. Asalkan dibiarkan, itu biasanya hilang dengan
sendirinya. akan tetapi, gagap ini tetap bertahan dan tidak hilang sekitar 1
persen anak-anak sekolah. Anak yang menderita gagap tidak dapat berkomunikasi
secara wajar. Anak gagap membutuhkan beberapa waktu untuk dapat mengucapkan kata
yang ia maksudkan. Kalau sudah terlalu lama dia mengeja kata tersebut dan tetap
sulit untuk diucapkan dia akan berhenti untuk mencoba dan menjadi diam.
Efnida,
dkk (2015: 3), Gagap adalah gangguan bicara dimana suara, suku kata, atau
kata-kata diucapkan berulang atau berkepanjangan. Sehingga mengganggu aliran
normal berbicara orang yang mengalaminya. Sekitar 100% orang dewasa gagap,
dimana 80% laki-laki dan 20% perempuan. Bicara gagap ini lebih banyak terjadi
pada anak laki-laki daripada perempuan dengan perbandingan 4:1.
Kemendikbud
(2008: 405), Gagap adalah gangguan bicara (kesalahan dalam ucapan dengan
mengulang-ulang bunyi, suku kata, atau kata), kelainan wicara berupa
pengulangan konsonan dan suku kata secara spasmodis karena gangguan
psikofisiologis dan lebih banyak terjadi pada pria.
Prayascitta,
dkk (2008: 1), Gagap atau stuttering merupakan salah satu bentuk
kelainan bicara yang ditandai dengan tersendatnya pengucapan kata-kata.
Wujudnya secara umum, tiba-tiba anak kehilangan ide untuk mengucapkan apa yang
ingin dia ungkapkan sehingga suara yang keluar terpatah-patah dan diulang-ulang
sampai tidak mampu mengeluarkan bunyi suara sedikitpun untuk beberapa lama.
Sekartini
dan Surjadinata (2015), Gagap atau dikenal pula dengan istilah stuttering merupakan
masalah ketidaklancaran bicara dalam bentuk pengucapan kata maupun aliran
kalimat yang dialami pada anak-anak maupun dewasa.
2.
Penyebab
Gagap
Menurut
Chaer (2003: 153), Kegagapan adalah disfasia yang ringan yang lebih sering
berjadi pada kaum laki-laki daripada kaum perempuan, dan lebih banyak pada
golongan remaja daripada golongan dewasa. Hal-hal yang dianggap mempunyai
peranan dalam menyebabkan terjadinya kegagapan itu:
a)
Faktor-faktor “stress” dalam kehidupan berkeluarga.
b)
Pendidikan anak yang dilakukan secara diktator, dengan membentak-bentak, serta
tidak mengizinkan anak berargumentasi dan membantah.
c)
Adanya kerusakan pada belahan otak (hemisfer) yang dominan.
d)
Faktor neurotik famial.
Berikut
ini gagap bicara yang disebabkan oleh faktor lain, seperti faktor biologis,
sosiologis, dan psikologis.
A. Faktor Biologis
1)
Kelahiran Prematur atau riwayat kelahiran bayi yang lahir prematur biasanya
mengalami kerusakan mental. Sering pertumbuhan jiwa dan jasmaninya tertunda
atau mengalami kelambatan.
2)
Genetik terjadi ketika ada garis keturunan yang membawa presdiposisi rentan
terhadap serangan gagap bicara. Gangguan saraf atau neorologis terdapat
gangguan pada koordinasi dari fungsi motorik untuk berbicara, seperti
gangguan pada syaraf bicara, gangguan alat bicara, dan
keterbatasan lidah.
B. Faktor Sosiologis
1. Lingkungan keluarga yang disebabkan tekanan psikologis dari
keluarga.
2. Lingkungan masyarakat yang terasa asing sehingga membuatnya
tertekan.
C. Faktor Psikologis
Umumnya karena ketidakmatangan emosi seseorang atau kelambanan
perkembangan emosi seseorang. ketegangan yang berasal dari reaksi seseorang
terhadap lingkungannya, di antaranya adalah stress mental karena sesuatu yang
dirasakan, namun tidak mampu untuk dilakukan.
Berdasarkan pemaparan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa gagap
lebih banyak disebabkan oleh faktor psikologis dibanding fisiologis, seperti
terdapat trauma, ketakutan, kecemasan, dan kesedihan pada masa kecil bisa
menyebabkan seseorang menjadi gagap sampai dewasa. Misalnya, anak yang kedua
orang tuanya sering bertengkar, sehingga membuat anak takut, cemas, sedih, dan
sering menangis. Cara bicara yang gagap ketika menangis bisa menjadi kebiasaan
sampai ia dewasa.
3.
Solusi
Pengobatan
dalam menangani gagap pada tiap orang berbeda-beda, disesuaikan dengan hasil
pemeriksaan dokter. Penanganan yang dilakukan juga tidak bisa menghilangkan
gagap secara menyeluruh, namun dapat membantu penderita gagap dalam
mengendalikan gejala yang ada.
Beberapa metode yang digunakan
untuk mengobati gagap adalah:
ü Terapi bicara.
Terapi ini berfokus pada mengurangi frekuensi munculnya gejala gagap saat
berbicara. Pasien akan diberikan arahan untuk meminimalkan munculnya gagap
dengan berbicara lebih perlahan, mengatur pernapasan saat berbicara, dan
memahami kapan gagap akan muncul. Terapi ini juga dapat menghilangkan
kegelisahan pada penderita yang sering muncul ketika akan melakukan komunikasi.
ü Menggunakan peralatan khusus. Pasien
dapat menggunakan peralatan khusus yang bertujuan untuk mengendalikan gejala.
Salah satu alat yang sering digunakan untuk mengendalikan gejala gagap adalah
DAF atau delayed auditory feedback. Alat ini bekerja dengan mengulang
apa yang penggunanya ucapkan, sehingga membuat pengguna seperti berbicara
secara serempak dengan orang lain.
ü Terapi perilaku kognitif. Terapi
perilaku koginitif bertujuan untuk mengubah pola pikir yang dapat memperburuk
kondisi gagap. Selain itu, metode ini juga dapat menghilangkan stres dan rasa
gelisah yang dapat memicu gagap.
Belum ada obat-obatan yang terbukti
dapat mengatasi gagap. Pada anak-anak, keterlibatan orang tua sangat
berpengaruh. Memahami cara berkomunikasi yang baik dengan penderita gagap,
dapat membantu dalam perbaikan kondisi penderita. Beberapa hal yang dapat
dilakukan untuk berkomunikasi secara efektif dengan penderita gagap adalah:
v Dengarkan
apa yang penderita sampaikan. Lakukan kontak mata secara alami dengan penderita
selagi berbicara.
v Hindari
melengkapi kata yang ingin disampaikan penderita. Biarkan penderita menyelesaikan
perkataannya.
v Pilih
tempat berbicara yang tenang dan nyaman. Bila perlu, atur momen ketika
penderita tengah merasa sangat tertarik untuk menceritakan sesuatu.
v Hindari
bereaksi negatif ketika gagap kambuh. Berikan koreksi dengan lembut dan puji
penderita ketika menyampaikan suatu maksud dengan lancar.
v Berbicara
secara perlahan. Penderita gagap secara tidak sadar akan mengikuti kecepatan
berbicara lawan bicaranya. Jika lawan bicaranya berbicara secara perlahan,
penderita juga akan berbicara secara perlahan, sehingga dapat lebih lancar
menyampaikan maksudnya.
DAFTAR
PUSTAKA



