Senin, 14 Oktober 2019

artikel gangguan gagap pada peserta didik


GANGGUAN GAGAP PADA PESERTA DIDIK
Oleh : Weny eviatasari (A1D117026)
PGSD di Universitas Jambi
A.    Pengantar
Bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu, sebagai makhluk berbudaya dan bermasyarakat. Setiap hari manusia tidak pernah lepas dengan yang namanya bahasa, dari semenjak kecil manusia tsudah sangat terbiasa untuk berbahasa. Anak-anak dengan kelainan bahasa mempunyai kesulitan dalam mengekspresikan pikirannya atau memahami apa yang diucapkannya. Keterlambatan bicara dapat diketahui dari ketepatan penggunaan kata, yang ditandai dengan pengucapan yang tidak jelas. Rendahnya kemampuan berbicara anak dapat terlihat dari kesulitan anak untuk berbicara dengan bahasa lisan, sulit menjawab pertanyaan, malu untuk bertanya, sulit untuk menceritakan pengalaman yang sederhana dan kemampuan kosa kata anak yang masih terbatas. Anak yang mengalami gangguan kelancaran berbicara (gagap) adalah anakyang memiliki gangguan kelancaran berbicara yang terjadi akibat dari perasaan kekhawatiran/kecemasan yang sangat tinggi saat hendak berbicara dengan lawan bicaranya, sehingga orang tersebut merasa kesulitan untuk mengungkapkan apa yang hendak ia bicarakan kepada lawan bicaranya, akibatnya ia berbicara dengan tersendat-sendat, mengulang-ulang ucapanya, dan mendadak berhenti untuk menyelesaikan apa yang hendak ia ucapkan.

B.     Pembahasan
1.      Latar belakang
Eka (2010: 7), Gagap adalah pengulangan bunyi yang sama berkali-kali tanpa di sengaja. Gagap yang ringan banyak terdapat pada anak-anak, yaitu sekitar 3 sampai 4 persen anak-anak prasekolah ketika mereka melalui belajar menggabungkan kata-kata. Asalkan dibiarkan, itu biasanya hilang dengan sendirinya. akan tetapi, gagap ini tetap bertahan dan tidak hilang sekitar 1 persen anak-anak sekolah. Anak yang menderita gagap tidak dapat berkomunikasi secara wajar. Anak gagap membutuhkan beberapa waktu untuk dapat mengucapkan kata yang ia maksudkan. Kalau sudah terlalu lama dia mengeja kata tersebut dan tetap sulit untuk diucapkan dia akan berhenti untuk mencoba dan menjadi diam.
Efnida, dkk (2015: 3), Gagap adalah gangguan bicara dimana suara, suku kata, atau kata-kata diucapkan berulang atau berkepanjangan. Sehingga mengganggu aliran normal berbicara orang yang mengalaminya. Sekitar 100% orang dewasa gagap, dimana 80% laki-laki dan 20% perempuan. Bicara gagap ini lebih banyak terjadi pada anak laki-laki daripada perempuan dengan perbandingan 4:1.
Kemendikbud (2008: 405), Gagap adalah gangguan bicara (kesalahan dalam ucapan dengan mengulang-ulang bunyi, suku kata, atau kata), kelainan wicara berupa pengulangan konsonan dan suku kata secara spasmodis karena gangguan psikofisiologis dan lebih banyak terjadi pada pria.
Prayascitta, dkk (2008: 1), Gagap atau stuttering merupakan salah satu bentuk kelainan bicara yang ditandai dengan tersendatnya pengucapan kata-kata. Wujudnya secara umum, tiba-tiba anak kehilangan ide untuk mengucapkan apa yang ingin dia ungkapkan sehingga suara yang keluar terpatah-patah dan diulang-ulang sampai tidak mampu mengeluarkan bunyi suara sedikitpun untuk beberapa lama.
Sekartini dan Surjadinata (2015), Gagap atau dikenal pula dengan istilah stuttering merupakan masalah ketidaklancaran bicara dalam bentuk pengucapan kata maupun aliran kalimat yang dialami pada anak-anak maupun dewasa.

2.      Penyebab Gagap
Menurut Chaer (2003: 153), Kegagapan adalah disfasia yang ringan yang lebih sering berjadi pada kaum laki-laki daripada kaum perempuan, dan lebih banyak pada golongan remaja daripada golongan dewasa. Hal-hal yang dianggap mempunyai peranan dalam menyebabkan terjadinya kegagapan itu:
a) Faktor-faktor “stress” dalam kehidupan berkeluarga.
b) Pendidikan anak yang dilakukan secara diktator, dengan membentak-bentak, serta tidak mengizinkan anak berargumentasi dan membantah.
c) Adanya kerusakan pada belahan otak (hemisfer) yang dominan.
d) Faktor neurotik famial.

Berikut ini gagap bicara yang disebabkan oleh faktor lain, seperti faktor biologis, sosiologis, dan psikologis.
A. Faktor Biologis
1) Kelahiran Prematur atau riwayat kelahiran bayi yang lahir prematur biasanya mengalami kerusakan mental. Sering pertumbuhan jiwa dan jasmaninya tertunda atau mengalami kelambatan.
2) Genetik terjadi ketika ada garis keturunan yang membawa presdiposisi rentan terhadap serangan gagap bicara. Gangguan saraf atau neorologis terdapat gangguan pada koordinasi dari fungsi motorik untuk berbicara, seperti gangguan  pada syaraf  bicara, gangguan alat bicara, dan keterbatasan  lidah.

B. Faktor Sosiologis
1. Lingkungan keluarga yang disebabkan tekanan psikologis dari keluarga.
2. Lingkungan masyarakat yang terasa asing sehingga membuatnya tertekan.

C. Faktor Psikologis
Umumnya karena ketidakmatangan emosi seseorang atau kelambanan perkembangan emosi seseorang. ketegangan yang berasal dari reaksi seseorang terhadap lingkungannya, di antaranya adalah stress mental karena sesuatu yang dirasakan, namun tidak mampu untuk dilakukan.
Berdasarkan pemaparan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa gagap lebih banyak disebabkan oleh faktor psikologis dibanding fisiologis, seperti terdapat trauma, ketakutan, kecemasan, dan kesedihan pada masa kecil bisa menyebabkan seseorang menjadi gagap sampai dewasa. Misalnya, anak yang kedua orang tuanya sering bertengkar, sehingga membuat anak takut, cemas, sedih, dan sering menangis. Cara bicara yang gagap ketika menangis bisa menjadi kebiasaan sampai ia dewasa.


3.      Solusi
Pengobatan dalam menangani gagap pada tiap orang berbeda-beda, disesuaikan dengan hasil pemeriksaan dokter. Penanganan yang dilakukan juga tidak bisa menghilangkan gagap secara menyeluruh, namun dapat membantu penderita gagap dalam mengendalikan gejala yang ada.
Beberapa metode yang digunakan untuk mengobati gagap adalah:
ü  Terapi bicara. Terapi ini berfokus pada mengurangi frekuensi munculnya gejala gagap saat berbicara. Pasien akan diberikan arahan untuk meminimalkan munculnya gagap dengan berbicara lebih perlahan, mengatur pernapasan saat berbicara, dan memahami kapan gagap akan muncul. Terapi ini juga dapat menghilangkan kegelisahan pada penderita yang sering muncul ketika akan melakukan komunikasi.
ü  Menggunakan peralatan khusus. Pasien dapat menggunakan peralatan khusus yang bertujuan untuk mengendalikan gejala. Salah satu alat yang sering digunakan untuk mengendalikan gejala gagap adalah DAF atau delayed auditory feedback. Alat ini bekerja dengan mengulang apa yang penggunanya ucapkan, sehingga membuat pengguna seperti berbicara secara serempak dengan orang lain.
ü  Terapi perilaku kognitif. Terapi perilaku koginitif bertujuan untuk mengubah pola pikir yang dapat memperburuk kondisi gagap. Selain itu, metode ini juga dapat menghilangkan stres dan rasa gelisah yang dapat memicu gagap.

Belum ada obat-obatan yang terbukti dapat mengatasi gagap. Pada anak-anak, keterlibatan orang tua sangat berpengaruh. Memahami cara berkomunikasi yang baik dengan penderita gagap, dapat membantu dalam perbaikan kondisi penderita. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk berkomunikasi secara efektif dengan penderita gagap adalah:
v  Dengarkan apa yang penderita sampaikan. Lakukan kontak mata secara alami dengan penderita selagi berbicara.
v  Hindari melengkapi kata yang ingin disampaikan penderita. Biarkan penderita menyelesaikan perkataannya.
v  Pilih tempat berbicara yang tenang dan nyaman. Bila perlu, atur momen ketika penderita tengah merasa sangat tertarik untuk menceritakan sesuatu.
v  Hindari bereaksi negatif ketika gagap kambuh. Berikan koreksi dengan lembut dan puji penderita ketika menyampaikan suatu maksud dengan lancar.
v  Berbicara secara perlahan. Penderita gagap secara tidak sadar akan mengikuti kecepatan berbicara lawan bicaranya. Jika lawan bicaranya berbicara secara perlahan, penderita juga akan berbicara secara perlahan, sehingga dapat lebih lancar menyampaikan maksudnya.

DAFTAR PUSTAKA