Selasa, 18 September 2018

Keterampilan Berbahasa ( Materi 1 )



HAKIKAT KETERAMPILAN BERBAHASA
Dalam berkomunikasi kita menggunakan keterampilan berbahasa yang telah kita miliki, seberapa pun tingkat atau kualitas keterampilan itu. Ada orang yang memiliki keterampilan berbahasa secara optimal sehingga setiap tujuan komunikasinya mudah tercapai. Namun, ada pula orang yang sangat lemah tingkat keterampilan berbahasanya sehingga menimbulkan salah pengertian dalam berkomunikasi. Proses encoding yaitu si pengirim pesan aktif memilih pesan yang akan disampaikan, memformulasikannya dalam wujud lambang lambang berupa bunyi/tulisan . Kemudian, lambang-lambang berupa bunyi/tulisan tersebut disampaikan kepada penerima. Selanjutnya, si penerima pesan aktif menerjemahkan lambang-lambang berupa bunyi/tulisan tersebut menjadi makna sehingga pesan tersebut dapat diterima secara utuh. Proses tersebut disebut proses decoding. Jadi, kedua belah pihak yang terlibat dalam komunikasi tersebut harus sama-sama memiliki keterampilan,
            keterampilan berbahasa dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori, yakni aspek reseptif dan aspek produktif. Aspek reseptif bersifat penerimaan atau penyerapan, seperti yang tampak pada kegiatan menyimak dan membaca. aspek produktif bersifat pengeluaran atau pemroduksian bahasa, baik lisan maupun tertulis sebagaimana yang tampak dalam kegiatan berbicara dan menulis. Keberhasilan suatu komunikasi sangat bergantung kepada proses encoding dan decoding yang sesuai dengan konteks komunikasinya. Seseorang dikatakan memiliki keterampilan berbahasa dalam posisi sebagai pengirim pesan (encoder), jika dalam proses encoding ia terampil memilih bentuk-bentuk bahasa yang tepat, sesuai dengan konteks komunikasi. Kemudian, ia dapat dikatakan memiliki keterampilan berbahasa dalam posisi sebagai penerima pesan (decoder), jika dalam proses decoding ia mampu mengubah bentuk-bentuk bahasa yang diterimanya dalam suatu konteks komunikasi menjadi pesan yang utuh, yang
isi dan maksudnya sama dengan maksud si pengirimnya
            Keterampilan berbahasa bermanfaat dalam melakukan interaksi komunikasi dalam masyarakat. Banyak profesi dalam kehidupan bermasyarakat yang keberhasilannya, antara lain bergantung pada tingkat keterampilan berbahasa yang dimilikinya, misalnya profesi sebagai manajer, jaksa, pengacara, guru, penyiar, dai, wartawan, dan lain-lain.
            Terdapat empat aspek keterampilan berbahasa yang biasa digunakan untuk berkomunikasi, yaitu mendengarkan (menyimak), berbicara, membaca, dan menulis.

1.      Mendengar atau menyimak
Mendengarkan adalah keterampilan memahami bahasa lisan yang bersifat reseptif. keterampilan mendengarkan di sini bukan berarti hanya sekadar mendengarkan bunyi-bunyi bahasa melalui alat pendengarannya, melainkan sekaligus memahami maksudnya. Istilah mendengarkan/menyimak berbeda dari istilah mendengar. Meskipun samasama menggunakan alat pendengaran, mendengarkan berbeda dengan mendengar. Pada kegiatan mendengar tidak tercakup unsur kesengajaan, konsentrasi, atau bahkan pemahaman. Sementara pada kegiatan mendengarkan terdapat unsur-unsur kesengajaan, dilakukan dengan penuh perhatian dan konsentrasi untuk memperoleh pemahaman yang memadai. Ada dua jenis situasi dalam mendengarkan, yaitu situasi mendengarkan. Secara interaktif dan situasi mendengarkan secara noninteraktif.
2.      Berbicara
Dalam keterampilan berbicara dikenal tiga jenis situasi berbicara, yaitu interaktif, semiinteraktif, dan noninteraktif. Situasi-situasi berbicara interaktif, misalnya terjadi pada percakapan secara tatap muka dan berbicara melalui telepon. situasi berbicara yang tergolong semiinteraktif, misalnya dalam berpidato di hadapan umum, kampanye, khutbah/ceramah, dan lain-lain. situasi berbicara dapat dikatakan betul-betul bersifat noninteraktif jika pembicaraan dilakukan secara satu arah dan tidak melalui tatap muka langsung, misalnya berpidato melalui radio atau televisi.
3.      Membaca
Keterampilan membaca tergolong keterampilan yang bersifat aktifreseptif. Keterampilan membaca terbagi ke dalam dua klasifikasi, yakni  membaca permulaan, dan  membaca lanjutan
4.      Menulis
Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang bersifat aktifproduktif. Aktivitas menulis bukanlah sekadar hanya menyalin kata-kata dan kalimat-kalimat; melainkan menuangkan dan mengembangkan pikiranpikiran, gagasan-gagasan, ide, dalam suatu struktur tulisan yang teratur, logis, sistematis, sehingga mudah ditangkap oleh pembacanya. Keterampilan menulis pun dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori, yakni menulis.
permulaan dan menulis lanjutan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar