HAKIKAT KETERAMPILAN
BERBAHASA
Dalam berkomunikasi kita menggunakan keterampilan
berbahasa yang telah kita miliki, seberapa pun tingkat atau kualitas
keterampilan itu. Ada orang yang memiliki keterampilan berbahasa secara optimal
sehingga setiap tujuan komunikasinya mudah tercapai. Namun, ada pula orang yang
sangat lemah tingkat keterampilan berbahasanya sehingga menimbulkan salah
pengertian dalam berkomunikasi. Proses
encoding yaitu si pengirim pesan aktif memilih
pesan yang akan disampaikan, memformulasikannya dalam wujud lambang lambang berupa bunyi/tulisan . Kemudian, lambang-lambang
berupa bunyi/tulisan tersebut disampaikan
kepada penerima. Selanjutnya, si penerima pesan aktif
menerjemahkan lambang-lambang berupa bunyi/tulisan tersebut menjadi makna sehingga pesan tersebut dapat diterima secara
utuh. Proses tersebut disebut proses decoding. Jadi, kedua belah pihak yang
terlibat dalam komunikasi tersebut harus
sama-sama memiliki keterampilan,
keterampilan berbahasa dapat
dikelompokkan ke dalam dua kategori, yakni aspek reseptif dan aspek
produktif. Aspek reseptif bersifat penerimaan atau penyerapan, seperti
yang tampak pada kegiatan menyimak dan membaca. aspek produktif bersifat
pengeluaran atau pemroduksian bahasa, baik lisan maupun tertulis sebagaimana
yang tampak dalam kegiatan berbicara dan menulis. Keberhasilan suatu komunikasi
sangat bergantung kepada proses encoding
dan decoding yang
sesuai dengan konteks komunikasinya. Seseorang dikatakan memiliki keterampilan
berbahasa dalam posisi sebagai pengirim pesan (encoder), jika dalam proses encoding ia terampil memilih bentuk-bentuk bahasa yang
tepat, sesuai dengan konteks komunikasi. Kemudian, ia dapat dikatakan memiliki keterampilan
berbahasa dalam posisi sebagai penerima pesan (decoder), jika dalam proses decoding ia mampu mengubah bentuk-bentuk bahasa yang
diterimanya dalam suatu konteks komunikasi menjadi pesan yang utuh, yang
isi
dan maksudnya sama dengan maksud si pengirimnya
Keterampilan berbahasa bermanfaat
dalam melakukan interaksi komunikasi dalam masyarakat. Banyak profesi dalam
kehidupan bermasyarakat yang keberhasilannya, antara lain bergantung pada
tingkat keterampilan berbahasa yang dimilikinya, misalnya profesi sebagai
manajer, jaksa, pengacara, guru, penyiar, dai, wartawan, dan lain-lain.
Terdapat empat aspek keterampilan
berbahasa yang biasa digunakan untuk berkomunikasi, yaitu mendengarkan
(menyimak), berbicara, membaca, dan menulis.
1. Mendengar
atau menyimak
Mendengarkan
adalah keterampilan memahami bahasa lisan yang bersifat reseptif. keterampilan mendengarkan di
sini bukan berarti hanya sekadar mendengarkan bunyi-bunyi bahasa melalui alat
pendengarannya, melainkan sekaligus memahami maksudnya. Istilah mendengarkan/menyimak berbeda
dari istilah mendengar. Meskipun
samasama menggunakan alat pendengaran, mendengarkan
berbeda dengan mendengar.
Pada kegiatan mendengar tidak tercakup unsur kesengajaan, konsentrasi, atau
bahkan pemahaman. Sementara pada kegiatan mendengarkan terdapat unsur-unsur
kesengajaan, dilakukan dengan penuh perhatian dan konsentrasi untuk memperoleh
pemahaman yang memadai. Ada dua jenis situasi dalam mendengarkan, yaitu situasi
mendengarkan. Secara interaktif dan
situasi mendengarkan secara noninteraktif.
2. Berbicara
Dalam keterampilan berbicara dikenal
tiga jenis situasi berbicara, yaitu interaktif, semiinteraktif, dan
noninteraktif. Situasi-situasi berbicara interaktif, misalnya terjadi pada
percakapan secara tatap muka dan berbicara melalui telepon. situasi berbicara
yang tergolong semiinteraktif, misalnya dalam berpidato di hadapan umum,
kampanye, khutbah/ceramah, dan lain-lain. situasi berbicara dapat dikatakan
betul-betul bersifat noninteraktif jika pembicaraan dilakukan secara satu arah
dan tidak melalui tatap muka langsung, misalnya berpidato melalui radio atau
televisi.
3. Membaca
Keterampilan
membaca tergolong keterampilan yang bersifat aktifreseptif. Keterampilan
membaca terbagi ke dalam dua klasifikasi, yakni
membaca permulaan, dan membaca
lanjutan
4. Menulis
Keterampilan
menulis merupakan keterampilan yang bersifat aktifproduktif. Aktivitas menulis
bukanlah sekadar hanya menyalin kata-kata dan kalimat-kalimat; melainkan
menuangkan dan mengembangkan pikiranpikiran, gagasan-gagasan, ide, dalam suatu
struktur tulisan yang teratur, logis, sistematis, sehingga mudah ditangkap oleh
pembacanya. Keterampilan menulis pun dapat diklasifikasikan ke dalam dua
kategori, yakni menulis.
permulaan dan menulis lanjutan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar